Qodho puasa ramadhan

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Sebelumnya kita telah membahas "Membayar Qodho' Puasa Ramadhan". Untuk saat ini rumaysho.com akan melanjutkan dengan bahasan utang qodho' puasa yang belum dibayar hingga mati. Apakah seperti ini harus dibayarkan oleh keluarganya? Pembahasan ini insya Allah bermanfaat dan akan memberikan jawaban menarik.

Barangsiapa Meninggal Dunia, Namun Masih Memiliki Utang Puasa

Bagi orang yang meninggal dunia, namun masih memiliki utang puasa, apakah puasanya diqodho’ oleh ahli waris sepeninggalnya ataukah tidak, dalam masalah ini para ulama berselisih pendapat. Pendapat terkuat, dipuasakan oleh ahli warisnya baik puasa nadzar maupun puasa Ramadhan. Pendapat ini dipilih oleh Abu Tsaur, Imam Ahmad, Imam Asy Syafi’i, pendapat yang dipilih oleh An Nawawi, pendapat para pakar hadits dan pendapat Ibnu Hazm.

Dalil dari pendapat ini adalah hadits ‘Aisyah,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki kewajiban puasa, maka ahli warisnya yang nanti akan mempuasakannya. Yang dimaksud “waliyyuhu” adalah ahli waris Namun hukum membayar puasa di sini bagi ahli waris tidak sampai wajib, hanya disunnahkan.

Juga hadits Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى مَاتَتْ ، وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ ، أَفَأَقْضِيهِ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ - قَالَ - فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى »

“Ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, dan dia memiliki utang puasa selama sebulan [dalam riwayat lain dikatakan: puasa tersebut adalah puasa nadzar], apakah aku harus mempuasakannya?” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iya. Utang pada Allah lebih pantas engkau tunaikan”

Hadits ‘Aisyah di atas membicarakan utang puasa secara umum sedangkan hadits Ibnu ‘Abbas membicarakan utang puasa nadzar. Jadi keumuman pada hadits ‘Aisyah tidak dikhususkan dengan hadits Ibnu ‘Abbas karena di dalamnya tidak ada pertentangan. Sebagaimana dalam ilmu ushul fiqh, takhsis (pengkhususan) itu ada jika terdapat saling pertentangan antara dalil yang ada. Namun dalam kasus ini, tidak ada pertentangan dalil. Ibnu Hajar mengatakan, “Hadits Ibnu ‘Abbas adalah hadits yang berdiri sendiri (tidak berkaitan dengan hadits ‘Aisyah, -pen), membicarakan khusus orang yang memiliki qodho’ puasa nadzar. Adapun hadits ‘Aisyah adalah hadits yang bersifat umum.”

Boleh beberapa hari qodho’ puasa dibagi kepada beberapa ahli waris. Kemudian mereka –boleh laki-laki ataupun perempuan- mendapatkan satu atau beberapa hari puasa. Boleh juga mereka membayar utang puasa tersebut dalam satu hari dengan serempak beberapa ahli waris melaksanakan puasa sesuai dengan utang yang dimiliki oleh orang yang telah meninggal dunia tadi.

Rincian Qodho’ Puasa bagi Orang yang Meninggal Dunia

Pertama: Jika seseorang tertimpa sakit yang tidak kunjung sembuh, maka ia tidak ada kewajiban puasa dan tidak ada qodho’ puasa. Yang ia lakukan hanyalah mengeluarkan fidyah dengan memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari yang ia tinggalkan. Ia boleh jadi melakukannya ketika ia hidup. Jika memang belum ditunaikan, ahli waris yang nanti menunaikannya ketika ia telah meninggal dunia.

Kedua: Adapun jika seseorang tertimpa sakit yang diharapkan sembuhnya, maka ia tidak ada kewajiban puasa di bulan Ramadhan karena sakit yang ia derita, namun ia punya kewajiban untuk qodho’ puasa. Jika ternyata ia tidak mampu menunaikan qodho’ karena sakitnya terus menerus hingga akhirnya meninggal dunia, maka ia tidak punya kewajiban qodho’ puasa dan juga tidak ada kewajiban mengeluarkan fidyah. Ahli warisnya pun tidak diperintahkan untuk membayar qodho’ puasanya dan juga tidak diperintahkan mengeluarkan fidyah.

Al ‘Azhim Abadi mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa jika seseorang tidak puasa karena alasan sakit dan safar, lalu ia tidak meremehkan dalam penunaian qodho’ hingga ia mati, maka ia tidak ada kewajiban qodho’ dan juga tidak ada kewajiban fidyah (memberikan makan pada orang miskin).”

Ketiga: Adapun jika seseorang itu sakit dan penyakitnya bisa diharapkan sembuh dan setelah sembuh ia mampu untuk menunaikan qodho’nya, namun ia meremehkan sehingga qodho’ tersebut tidak ditunaikan sampai ia meninggal dunia; maka orang semacam ini yang disunnahkan untuk dibayar qodho’ puasanya selama beberapa hari oleh ahli warisnya. Jika ahli waris tidak membayar qodho’nya, maka bisa digantikan dengan fidyah (memberi makan kepada orang miskin) bagi setiap hari yang ditinggalkan.

Dari penjelasan ini, maka maksud hadits, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki kewajiban puasa, maka ahli warisnya yang nanti akan mempuasakannya” adalah barangsiapa yang tidak puasa karena udzur (seperti haidh, safar atau sakit yang bisa diharapkan sembuhnya), lantas ia pun mampu menunaikan qodho’ puasanya namun ia tidak melakukannya, maka disunnahkan bagi ahli warisnya untuk melunasi utang puasanya.

referensi

Tawdhihul Ahkam, 2/712 dan Asy Syarhul Mumthi’, 3/93.

Penjelasan Syaikh Sholih Al Munajid dalam Fatawanya Al Islam Sual wa Jawab no. 81030. Lihat pula Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/26.

»»  baca lanjutannya sob .. ..

Membayar Puasa orang yang sudah meninggal

Membayarkan puasa (mempuasakan) orang yang sudah meninggal dunia -dikarenakan saat sebelum meninggal dia meninggalkan puasa beberapa hari- menjadi masalah yang sering diperdebatkan di tengah-tengah masyarakat. Jawaban yang pasti dan jelas menjadi tuntutan agar umat bisa mengambil sikap berdasarkan hujjah yang kuat.Dalam masalah ini perlu ada perincian. Jika puasanya adalah puasa nadzar atau kafarah, maka boleh dibayarkan puasanya oleh yang lain berdasarkan sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

Siapa yang meninggal dunia dan masih memiliki tanggungan puasa, maka walinya menggantikan puasanya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radliyallaahu 'anha)

Dan puasa itu diikat dengan puasa nadzar, menurut Jumhur ulama. Dan seperti itu pula fatwa dari para sahabat radliyallaahu 'anhum. Sebagaimana terdapat keterangan dari Ibnu Abbas radliyallaahu 'anhuma yang membedakan antara puasa qadla’ dengan puasa nadzar. Puasa kafarat juga masuk di dalamnya, karena termasuk pausa yang pada dasarnya tidak wajib.

Adapun jika puasa itu adalah puasa Ramadlan, terdapat perincian yang lain: Jika seseorang mendapati masa tertentu yang mampu untuk berpuasa di dalamnya, dan tidak berpuasa, maka dikeluarkan kafarat atasnya berupa memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya. Dan kadarnya setengah sha’ dari makanan. Dan apabila orang-orang miskin diundang lalu diberi makan sesuai dengan hari-hari yang menjadi tanggungan mayit, maka boleh dan mencukupi.

Misalnya dia memiliki hutang puasa 10 hari kemudian ia membeli makanan yang cukup untuk sepuluh orang miskin, lalu mereka diberi makan semuanya, maka itu juga sudah mencukupi.

Namun apabila seseorang tidak mendapati satu haripun sesudah Ramadlan yang memungkinkannya untuk mengqadla’ puasanya, maka tidak ada tuntutan apapun atasnya dan tidak pula atas walinya (ahli warisnya), karena dia tidak melalaikan.

Misalnya: seseorang sakit pada bulan Ramadlan dan tidak berpuasa sepuluh hari, kemudian sakitnya berlanjut hingga dia meninggal dunia. Dia tidak mungkin melaksanakan qadla’, maka tidak ada kewajiban apapun atasnya. Wallahu a’alam.

Resensi:

Hasbiyallah.”fiqih” PT Grafindo Media Pratama

»»  baca lanjutannya sob .. ..

Fidyah untuk orang yang telah meninggal

Menurut istilah fiqh, fidyah merupakan satu cara untuk menggantikan puasa Ramadhan yang tertinggal disebabkan keuzuran yang diterima oleh syarak atau tidak. Oleh itu, tiada amalan fidyah dilakukan kerana meninggalkan kefardhuan yang lain seperti meninggalkan solat dan sebagainya. Mereka yang diberi kelonggaran meninggalkan puasa namun wajib membayar fidyah atau melakukan qadha adalah seperti berikut;

  1. Orang yang musafir dan tiada keupayaan tenaga dalam musafirnya kecuali dengan berbuka puasa. Hukumnya harus berbuka tetapi wajib menggantikan puasa tersebut.
  2. Orang yang uzur kerana disebabkan sakit tua dan tidak mempunyai keupayaan untuk berpuasa. Hukumnya diharuskan berbuka dan wajib membayar fidyah.
  3. Ibu yang menyusu dan dibimbangi tentang kesihatannya atau anak tersebut. Hukum harus berbuka tetapi wajib menggantikannya serta fidyah. Namun ada pendapat yang mewajibkan ganti puasa sahaja tanpa fidyah..
  4. Orang yang sakit dan dinasihatkan oleh doktor perubatan atau pakar bahawa beliau tidak perlu berpuasa dan jika berpuasa boleh mendatangkan kemudharatan atau bertambah teruk sakitnya seperti gestrik dan sebagainya. Harus berbuka dan wajib menggantikan puasa sahaja.
  5. Wanita yang hamil dan dinasihatkan oleh doktor supaya tidak berpuasa, kerana dikuatiri dirinya menjadi lemah dan akan membahayakan kandungannya, maka wanita itu tidak wajib berpuasa namun wajib ke atasnya qadha dan fidyah.

Hal ini merujuk kepada Firman Allah:

Maksudnya: “Puasa Yang Diwajibkan itu ialah beberapa hari yang tertentu; maka sesiapa di antara kamu yang sakit, atau dalam musafir, (bolehlah ia berbuka), kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain; dan wajib atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tua dan sebagainya) membayar fidyah Iaitu memberi makan orang miskin. maka sesiapa yang Dengan sukarela memberikan (bayaran fidyah) lebih dari yang ditentukan itu, maka itu adalah suatu kebaikan baginya; dan (Walaupun demikian) berpuasa itu lebih baik bagi kamu daripada memberi fidyah), kalau kamu mengetahui (al-Baqarah : 184)

Berrsandarkan nas di atas, mereka yang diwajibkan fidyah ke atasnya boleh disempurnakan dengan mengeluarkan secupak makanan asasi tempatan (beras) atau bersamaan 670 gram kepada fakir miskin bagi setiap hari yang ditinggalkan. Perlu diingatkan, fidyah hanya diberikan kepada fakir miskin dan bukan kepada asnaf-asnaf yang lain seperti agihan zakat. Imam al-Nawawi menegaskan “pengagihan fidyah hanya kepadai fakir dan miskin sahaja” Mengenai tata cara mengeluarkan fidyah, ianya boleh dilaksanakan secara sendirian yakni dengan membeli makanan asasi (beras) tersebut mengikut jumlah hitungan hari yang ditinggalkan x satu cupak. Sebagai contoh, andaikan puasa yang ditingalkan sebanyak 10 hari bermakna 10 cupak atau bersamaan 6.7 kg. Itulah kadar yang diwajibkan kemudian disedekahkan beras tersebut kepada fakir miskin samada hanya kepada seorang penerima sahaja atau lebih. Fidyah juga boleh diwakilkan kepada waris atau pihak-pihak yang boleh menguruskannya. Namun begitu terdapat beberapa persoalan sampingan yang berkaitan dengan permasalahan fidyah iaitu;

  • Adakah fidyah dikenakan ke atas mereka yang meninggalkan puasa dan melampaui ramadhan yang berikutnya dan adakah fidyahnya akan berganda.
  • Adakah fidyah boleh dijelaskan dalam bentuk nilaian wang tunai atau hanya dikhususkan kepada makanan asasi sahaja.

Berkaitan fidyah bagi pihak si mati, para ulamak berpendapat para waris wajib melaksanakan urusan fidyah berkenaan sebagaimana tanggungjawab melangsaikan hutang-hutang yang lain. Hal ini disandarkan kepada sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari daripada Ibn Abbas ra bahawa nabi saw telah didatangi oleh seorang lelaki yang bertanya tentang ibunya yang mati tetapi masih mempunyai tanggungjawab puasa, adakah boleh ia menunaikannya. Jawab baginda saw : Ya, hutang Allah lebih utama ditunaikan” Pendapat ini diperkukuhkan dengan sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Imam al-Tirmizi daripada Ibn Umar ra bahawa nabi saw bersabda: ”Sesiapa yang mati dan di atasnya tanggungjawab puasa, hendaklah ia memberi makan fakir miskin setiap hari”. Namun begitu para waris digalakkan (sunat) menggantikan puasa berkenaan bagi pihak si mati sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim daripada Saidatina Aisyah r.a bahawa nabi saw bersabda: ”Sesiapa yang mati dan di atasnya tanggungjawab puasa, hendaklah para waris berpuasa bagi pihaknya”. Imam al-Syaukani lebih cenderong menjelaskan maksud hadith tersebut dengan makna “ para waris melakukan sesuatu yang seumpama puasa iaitu memberi makan“. Pendapat ini selaras dengan pendapat Ibnu Hajar yang dikemukakan di dalam kitab Fathu al-Bari.

Referensi;

  • Fiqh Islami wa Adilatuh

»»  baca lanjutannya sob .. ..

Yang mengqadha puasa ramadhan

Sesiapa yang wajib mengqadha’ puasa Ramadan, seluruh atau sebahagiannya, tetapi dia melambatkan qadha’ sehingga masuk bulan Ramadhan berikutnya; jika dia melambatkan qadha’ itu kerana keuzuran seperti sakit atau pemusafiran yang berterusan sepanjang tahun, maka dia tidak dikenakan apa-apa fidyah. Dia hanya wajib mengqadha’ sahaja.

Tetapi jika dia tidak mempunyai apa-apa keuzuran, maka tidak boleh baginya melambatkan qadha’ puasa tersebut menurut kesepakatan ulama, bahkan dia dikira berdosa kerana melambatkannya sehingga tiba Ramadan berikutnya.

Oleh itu, sesiapa yang tidak mengqadha’ puasa Ramadhan sehingga tiba Ramadhan berikutnya, dia adalah berdosa. Dia tetap wajib mengqadha’ puasa tersebut, di samping dia dikenakan membayar fidyah. Fidyah ialah mengeluarkan satu cupak makanan asasi bagi sesuatu negeri kepada fakir miskin bagi setiap hari yang ditinggalkannya.

Jika pada tahun berikutnya juga dia masih tidak mengqadha’ puasa tersebut, maka dalam masalah ini terdapat dua pandangan. Pertama fidyah tersebut akan berganda berdasarkan bilangan tahun. Kedua, fidyah tersebut tidak berganda meskipun melangkaui tahun berikutnya.

Namun Dr Yusuf al-Qaradawi berpendapat fidyah adalah tidak wajib, bahkan hanya sunat sahaja, kerana hukumnya tidak sabit daripada hadis sahih yang disandarkan kepada Rasulullah (s.a.w). Apa yang ada hanya athar (riwayat) daripada sekumpulan sahabat yang tidak boleh menjadi hujjah terhadap sesiapa. Oleh itu, beliau mengatakan mengeluarkan fidyah kerana terlepas daripada mengqadha’kan puasa sehingga masuk bulan Ramadan berikutnya hanyalah sunat sahaja, tidak wajib, sebagai langkah menampung kekurangan yang berlaku hasil daripada kecuaian melewatkan qadha’ puasa itu. Untuk mengatakan ia adalah wajib, memerlukan kepada dalil, tetapi di sini tidak ada dalil sedemikian. Wallahu a’lam.

Referensi:

Al-Nawawi, Muhy al-Din Sharaf. T.th. al-Majmu‘ Sharhal-Muhadhdhab. Jedah: Maktabat al-Irshad.

»»  baca lanjutannya sob .. ..